People pleasure seringkali didefinisikan sebagai seseorang yang takut pada penolakan, selalu mencari persetujuan dari orang lain agar dapat diterima dan menyenangkan perasaan orang tersebut. Sekilas seperti ada benang tipis yang membentang antara kebaikan hati dan people pleasing, namun sebenarnya motif keduanya berbeda. Kebaikan hati lahir dari ketulusan dan dorongan internal, sementara people pleasing lahir dari kekuatan eksternal yang membuat seseorang merasa harus melakukan sesuatu agar menyenangkan orang di hadapannya.
Patrick King mengemukakan bahwa akar dari people pleasing sebenarnya ada pada masa kanak-kanak, pola asuh turun temurun di keluarga yang juga didukung oleh latar belakang budaya, di mana kepercayaan diri tidak dibentuk, yang berusaha diajarkan sejak dini hanya "Nanti apa kata orang kalau kamu begini dan begitu." Momen di mana kita sering disalahkah ketika kecil juga membentuk paradigma bahwa kita harus melakukan sesuatu yang menyenangkan orangtua ataupun saudara agar memperoleh "hati" mereka dan tidak lagi disalahkan. Sehingga, alam bawah sadar selalu mengkhawatirkan penilaian orang lain, kita bertindak seakan-akan agar orang lain terkesan dan menerima, padahal tidak ada tanggung jawab apapun untuk memuaskan siapa pun.
Buku ini seakan mengajak kita untuk mendudukkan diri sendiri dan bertanya, "Apa yang harus saya lakukan untuk menjadi bahagia?"
Bagi King, diri yang murni adalah diri yang mengetahui bahwa itu cukup untuk dirinya dan bernilai, bahkan tanpa semua jebakan persetujuan eksternal dan kesuksesan materi. Perlu upaya untuk menghidupkan kembali diri kita yang murni, di antaranya adalah dengan istirahat, menarik diri, dan berefleksi selama beberapa waktu. Karena hubungan dengan diri sendiri menentukan hubungan kita dengan segala sesuatu yang lain.
Analogi sebuah gelas berisi air, kita ingin memberikan isi gelas kita pada orang lain karena dia meminta, memberikannya itu adalah suatu hal terpuji, suatu kebaikan hati. Tapi jika kita terus memberi tanpa memperhatikan isi gelas kita, maka kita juga akan kekeringan, tidak lagi ada yang bisa kita berikan ke orang lain saat kita juga kosong. Bukan karena takut dibenci atau tidak disenangi, lantas kita menggerogoti diri yang sebenarnya tidak begitu kuat. Maka sangat penting memberikan batasan. Batasan yang dimaksud harus dimulai dengan menentukan apa nilai-nilai utama yang kita pegang? Tidak ada orang lain yang tahu prioritas kita, juga tidak ada orang lain yang dapat memberi tahu batas seperti apa yang kita perlukan. Kita sendiri pemegang kuncinya, dan kita dapat membuat batas-batas yang berbeda untuk orang yang berbeda.
Mereka mungkin tidak paham mengapa kita menetapkan batasan, dan itu sama sekali tidak masalah. Yang perlu kita lakukan hanyalah berusaha mengkomunikasikan batas-batas yang kita punya, agar orang lain mengetahui dan relasi menjadi sehat. Mengapa komunikasi penting? Karena tidak semua orang se-intuitif itu untuk menangkap pesan yang tersirat. Namun, di buku ini menegaskan bahwa batasan itu bukan hanya untuk orang lain, kita juga bisa menetapkan batasan untuk kebiasaan-kebiasaan kita. Seperti membatasi berapa banyak waktu yang dikerahkan untuk pekerjaan tertentu, mengonsumsi makanan dan minuman tertentu, serta menetapkan jadwal harian yang tidak terlalu membebani kita. Ini adalah bentuk bagaimana kita menghargai diri sendiri.
"Kita tidak dapat benar-benar menghargai atau mencintai orang lain, jika kita tidak dapat menghargai atau mencintai diri sendiri."
#AUW