Sabtu, 31 Januari 2026

Review Buku "Kita Tidak Mungkin Bisa Menyenangkan Semua Orang"


Buku ini ditulis oleh Patrick King, yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Dono Sunardi dan diterbitkan di Bhuana Ilmu Populer (Jakarta) pada tahun 2022. Dari judulnya sudah dapat ditebak bahwa buku ini bergenre self improvement atau self help, berisi enam bab yang membahas tentang kondisi dan solusi psikis seseorang yang "ingin diterima" sehingga cenderung menjadi people pleaser. Mulai dari pembahasan tentang kebutuhan fatal untuk menyenangkan orang lain, apa sumber atau penyebab sikap suka menyenangkan orang lain itu, bagaimana memprogram ulang keyakinan-keyakinan mendasar yang dimiliki, mengubah kebiasaan, menetapkan boundaries atau batasan, dan bagaimana agar berani menyatakan tidak pada sesuatu yang sebenarnya tidak kita inginkan.

People pleasure seringkali didefinisikan sebagai seseorang yang takut pada penolakan, selalu mencari persetujuan dari orang lain agar dapat diterima dan menyenangkan perasaan orang tersebut. Sekilas seperti ada benang tipis yang membentang antara kebaikan hati dan people pleasing, namun sebenarnya motif keduanya berbeda. Kebaikan hati lahir dari ketulusan dan dorongan internal, sementara people pleasing lahir dari kekuatan eksternal yang membuat seseorang merasa harus melakukan sesuatu agar menyenangkan orang di hadapannya. 

Patrick King mengemukakan bahwa akar dari people pleasing sebenarnya ada pada masa kanak-kanak, pola asuh turun temurun di keluarga yang juga didukung oleh latar belakang budaya, di mana kepercayaan diri tidak dibentuk, yang berusaha diajarkan sejak dini hanya "Nanti apa kata orang kalau kamu begini dan begitu." Momen di mana kita sering disalahkah ketika kecil juga membentuk paradigma bahwa kita harus melakukan sesuatu yang menyenangkan orangtua ataupun saudara agar memperoleh "hati" mereka dan tidak lagi disalahkan. Sehingga, alam bawah sadar selalu mengkhawatirkan penilaian orang lain, kita bertindak seakan-akan agar orang lain terkesan dan menerima, padahal tidak ada tanggung jawab apapun untuk memuaskan siapa pun. 

Buku ini seakan mengajak kita untuk mendudukkan diri sendiri dan bertanya, "Apa yang harus saya lakukan untuk menjadi bahagia?" 

Bagi King, diri yang murni adalah diri yang mengetahui bahwa itu cukup untuk dirinya dan bernilai, bahkan tanpa semua jebakan persetujuan eksternal dan kesuksesan materi. Perlu upaya untuk menghidupkan kembali diri kita yang murni, di antaranya adalah dengan istirahat, menarik diri, dan berefleksi selama beberapa waktu. Karena hubungan dengan diri sendiri menentukan hubungan kita dengan segala sesuatu yang lain. 

Analogi sebuah gelas berisi air, kita ingin memberikan isi gelas kita pada orang lain karena dia meminta, memberikannya itu adalah suatu hal terpuji, suatu kebaikan hati. Tapi jika kita terus memberi tanpa memperhatikan isi gelas kita, maka kita juga akan kekeringan, tidak lagi ada yang bisa kita berikan ke orang lain saat kita juga kosong. Bukan karena takut dibenci atau tidak disenangi, lantas kita menggerogoti diri yang sebenarnya tidak begitu kuat. Maka sangat penting memberikan batasan. Batasan yang dimaksud harus dimulai dengan menentukan apa nilai-nilai utama yang kita pegang? Tidak ada orang lain yang tahu prioritas kita, juga tidak ada orang lain yang dapat memberi tahu batas seperti apa yang kita perlukan. Kita sendiri pemegang kuncinya, dan kita dapat membuat batas-batas yang berbeda untuk orang yang berbeda. 

Mereka mungkin tidak paham mengapa kita menetapkan batasan, dan itu sama sekali tidak masalah. Yang perlu kita lakukan hanyalah berusaha mengkomunikasikan batas-batas yang kita punya, agar orang lain mengetahui dan relasi menjadi sehat. Mengapa komunikasi penting? Karena tidak semua orang se-intuitif itu untuk menangkap pesan yang tersirat. Namun, di buku ini menegaskan bahwa batasan itu bukan hanya untuk orang lain, kita juga bisa menetapkan batasan untuk kebiasaan-kebiasaan kita. Seperti membatasi berapa banyak waktu yang dikerahkan untuk pekerjaan tertentu, mengonsumsi makanan dan minuman tertentu, serta menetapkan jadwal harian yang tidak terlalu membebani kita. Ini adalah bentuk bagaimana kita menghargai diri sendiri. 

"Kita tidak dapat benar-benar menghargai atau mencintai orang lain, jika kita tidak dapat menghargai atau mencintai diri sendiri." 

#AUW

Sabtu, 29 Maret 2025

Ramadan#30 : Pulang


"Kembali pulang ...." Lagu yang dipopulerkan tahun 2023 oleh Feby Putri dan Suara Kayu ini mengajak kita pada kesadaran murni bahwa sejauh apapun perjalanan kita di dunia, sedalam apapun suka maupun luka yang kita rasakan, kita akan selalu mencari jalan pulang. Dalam kehidupan normal sehari-hari, kita kerap mengidentikkan kata "kembali/pulang" dengan rumah. Setelah segala huru-hara di luar sana, kita selalu merindukan pulang. Namun hakikatnya, manusia sebagai ciptaan memang didesain untuk kembali kepada Penciptanya, entah dalam hal ini kembali ke jalan yang diridhai Allah, atau kembali dalam makna yang lebih transendental: kembali ke sisi-Nya. Dalam Al-Qur'an tepatnya surah Al-Fajr, Allah mengucapkan kata kembali, "... ارجعي إلى ربك..."  yang berarti pulanglah ke sisi Rabb-mu. Pada 30 Ramadan dan 1 Syawal, kita sering mendapatkan ucapan selamat hari raya dan semoga kembali fitrah. Yang dimaksud sebenarnya adalah harapan agar Ramadan yang dijalani selama 30 hari benar-benar menjadi jalan untuk kita kembali pada fitrah sebagai makhluk (ciptaan). Kembali fitrah semata-mata juga bukan bermakna kembali suci sebagaimana anak yang baru lahir. Karena irasional jika kita ingin kembali sesuci bayi yang baru lahir, tidak ada seorang pun yang ma'shum (terbebas dari kesalahan) selain Rasulullah Saw. Namun kita perlu memaknai bahwa kembali fitrah adalah term yang yang menunjukkan betapa fitrah manusia itu adalah memperbaiki apa yang perlu diperbaki, dan meminta maaf serta meminta pengampunan setiap kali salah. 

Judul tulisan ini merupakan ide yang tiba-tiba muncul mengingat sebentar lagi Ramadan akan pamit dan Idul Fitri aka bersambut. Alasan kedua, terlintas ucapan seorang kawan pada sebuah bincang santai, setelah beberapa tahun kami baru berjumpa dan hari itu kami terlibat obrolan yang berat hingga sedikit bertukar keresahan tentang problematika kehidupan. 
"Pulang, yuk!!" Ucapnya sambil senyum. Lalu, melanjutkan ....
"Kalau kita lagi merasakan hidup ini berat banget, sampai rasanya udah babak belur dihantam dari segala arah, sebenarnya itu kode. Kalau capek, ayo pulang." 

Aku tidak berkomentar apa-apa, hanya menatap lamat-lamat, seperti tak berselera mengeluarkan kalimat apapun saat itu. Aku membiarkannya bercerita. 

"Pernah gak pas lagi capek-capeknya dengan hiruk pikuk dunia, pikiran kacau ke sana kemari, tiba-tiba kepikiran kalau ini apa yang salah ya? Apa ada yang perlu aku perbaiki yang mungkin gak sesuai dengan fitrahku sebagai hamba. Kita mungkin lagi gak salah jalan, tapi jalannya kejauhan aja, jadinya capek." Demikian telingaku siap mendengarkan apapun, tanpa menjustifikasi omongannya, tanpa baper dengan yang disampaikannya, karena aku meyakini bahwa kawan yang baik tidak akan menjatuhkan kita, mereka hanya ingin membersamai kita. Dan kawan yang santun juga akan menyampaikan tanpa melukai, tanpa menyalahkan, tanpa merasa paling baik.

Analogi itu seakan menggambarkan bagaimana kita berkelana di dunia, mencari jati diri ke sana kemari, mencari kesenangan dari satu tempat ke tempat yang lain, namun secara naluriah kita akan selalu membutuhkan pulang. Beruntungnya jika dalam perjalanan menuju pulang itu kita ditemani pendar cahaya yang mampu menuntun, agar jalan terlihat lebih jelas dan terang. 

Aku mencoba memaknai kata "pulang" sebagai bentuk lain dari pencerahan, yang merupakan tujuan utama dari seorang hamba. Kehidupan menjadi misteri, sehingga kita dituntut untuk menemukan jawaban dan kembali / pulang karena awal dan akhir kita sama saja: From God to God. Kita semua hidup dalam ilusi, sehingga perlu gebrakan untuk keluar dari kegelapan maya, sehingga pencerahan menjadi sangat penting. Dalam buku The Questions You Must Answer Before You Die, dikatakan bahwa manusia memiliki pengetahuan tentang kebenaran tapi belum tercerahkan karena terhijab oleh ego, tubuh, dan pikiran. Orang yang memiliki pengetahuan belum terbebas dan belum tercerahkan hingga dia memenangkan peperangan atas egonya. 

Ego inilah yang membuat kita enggan pulang, meski sebenarnya jiwa kita sudah merasa lelah. Kita sering luput bahwa kita memang punya tubuh, tapi kita bukan tubuh itu. Kita punya pikiran tapi kita bukan pikiran.

Setiap cobaan yang kita hadapi adalah bagian dari proses penghapusan dosa dan penguatan iman. Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang berusaha untuk kembali ke jalan-Nya. Setiap langkah kita menuju kebaikan akan dicatat dan dihargai, setiap penyesalan akan diampuni. Kita hanya perlu sungguh-sungguh datang kepada-Nya dengan hati yang tulus. Setiap detik yang kita habiskan untuk merenung, berdoa, dan bertawakkal kepada Allah adalah investasi yang tidak ternilai. 

Jalan pulang menuju Ilahi adalah jalan menuju kebahagiaan sejati. Setiap langkah kita, sekecil apapun akan sangat bernilai bagi-Nya. Semoga jiwa kita senantiasa menemukan ketenangan, keindahan, dan cinta yang abadi.

تقبل الله منا ومنكم 
Selamat menyambut hari Raya Idul Fitri, kembali kepada fitrah sebagai hamba: fitrah beragama dan fitrah mencintai. 

Salam hangat,
AUW






Ramadan#29 : Warisan


"Jangan berharap warisan berupa harta, kami tidak bisa menjanjikan itu. Kami hanya dapat mewariskan ilmu ...." Ucapan ayahku tiga belas tahun silam, yang terus membekas sampai hari ini. Saat itu aku belum paham dan menganggap ucapan itu seperti angin lalu, hingga akhirnya perjalanan hidup membawaku pada pemahaman bahwa ilmu benar-benar menjadi warisan terbaik yang tidak pernah lekang oleh waktu, dan mampu mengubah kehidupan seseorang. Baik Ayah maupun Ibu tidak pernah memaksaku untuk menyukai buku, tidak juga ada tuntutan untuk suka membaca. Namun sejak kecil, aku terbiasa melihat deretan buku di rumah. Kebiasaan melihat inilah yang membuatku terkadang iseng mengambil atau membuka buku-buku yang isinya belum aku mengerti. Hingga akhirnya menemukan satu buku yang mengasyikkan, dari sanalah bibit kecintaan itu tumbuh. Sampai detik ini aku masih menganggap buku sebagai aset istimewa, dan ilmu sebagai warisan yang mahal. Aku mengamati bahwa perlu kultur dan lingkungan yang mendukung untuk menghidupkan ruang-ruang keilmuan itu.

Tak salah jika para tokoh dan ilmuwan baik di Timur maupun Barat memiliki pandangan istimewa tentang ilmu, terutama di kalangan para pemikir Muslim. Misalnya Ali bin Abi Thalib dengan petuah indahnya yang masyhur bahwa ilmu lebih mulia daripada harta, karena ilmu mampu melindungi pemiliknya, sementara harta justru harus dilindungi. Ilmu sebagai warisan memiliki ruang lingkup yang luas. Ada orangtua yang mengajarkan pada anaknya tentang ilmu bertahan hidup, dengan memperkenalkan anak-anak sejak kecil pada perjuangan dan kerja keras. Ada orangtua yang mengajarkan ilmu kebal dan kedisiplinan pada anaknya, dengan memberikan didikan yang tegas sejak kecil. Ada yang mewariskan ilmu resep kue, resep makanan tradisional, resep obat, dsb. 

Aku mulai memahami lebih jauh mengapa Rasulullah mengatakan bahwa menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim dan Muslimah. Dalam Islam, ilmu tidak sekadar warisan berharga, namun juga dianggap sebagai cahaya yang dapat menerangi jalan hidup manusia. Bahkan dikatakan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu beberapa derajat, baik di dunia maupun di akhirat. 

Kita mungkin kerap mendengar orangtua berkata, "Tidak usah dipikirkan soal biaya sekolah/kuliah. Belajar saja, menuntut ilmu baik-baik." Ternyata kalimat ini tidak hanya sekadar penghibur bagi anak-anak yang sedang berjuang untuk menuntut ilmu, namun juga sebuah keyakinan di dasar hati orangtua bahwa akan ada rezeki yang mengalir untuk para penuntut ilmu, karena Allah yang memudahkan jalannya. 

Ilmu sangat berkontribusi penting dalam pengembangan individu maupun masyarakat. Orang yang berilmu dan terdidik akan lebih mampu menangani problematika, menghadapi tantangan, permasalahan sosial, ekonomi, maupun politik. Perlu digarisbawahi bahwa menurut Islam, ilmu tidak hanya sebatas pengetahuan ilmiah, bukan hanya pengetahuan fisik, tapi juga tentang etika. 

Saat ini kita bisa memilih akan menjadi orangtua yang seperti apa untuk generasi kita. Kita bisa menentukan warisan apa yang ingin kita tinggalkan. Kembali aku ingin mengutip 3M ala KH. Abdullah Gymnastiar alias AA Gym: Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, dan mulai dari sekarang. Konon, untuk memperbaiki generasi dan masa depan bangsa, tidak cukup dengan banyak berkoar di podium atau melakukan orasi di pemerintahan. Tapi kita perlu memulainya dari organisasi terkecil dalam masyarakat, yaitu keluarga. 

AUW



Jumat, 28 Maret 2025

Ramadan#28 : Pesan-pesan


Setiap yang tercipta hadir dengan membawa pesan, baik tersurat maupun yang tersirat. Pesan tidak sebatas obrolan chat di WhatsApp, Direct Messages, Messenger, surat, dsb. Pesan juga bukan hanya nasehat dari mulut ke mulut. Lebih luas daripada itu, pesan dapat ditemukan melalui benda-benda di sekitar kita yang memberikan pelajaran bagi kita jika dapat mengasah kepekaan. Untuk menangkap pesan-pesan semesta, diperlukan sensitivitas karena benda-benda mungkin tidak berbicara tapi mampu mengajarkan banyak hal. Kita hanya perlu melatih intuisi, agar dapat menangkap pesan dengan bijak. 

Ambil jeda dan bercengkerama dengan semesta. Mengeja setiap ayat/tanda untuk menemukan pesan-pesan. Semesta pun turut berpesan. Segala yang ada di alam menjadi media belajar terbaik, untuk memperoleh pengetahuan dan untuk mengenali lebih dalam lagi tentang siapa kita. Mungkin kita bisa mengambil pesan dari hal-hal berikut. 

✓ Cermin, benda ini seakan berpesan bahwa sebelum orang lain berkomentar banyak tentang kita, kita perlu bercermin terlebih dahulu untuk merefleksikan diri, agar dapat meminimalisir hal-hal yang kurang berkenan yang ada dalam diri kita. Kita perlu berdialog dengan diri sendiri terlebih dahulu, memerhatikan apakah secara lahir dan batin kita sudah siap berinteraksi dengan orang lebih jauh lagi atau kita perlu berbenah diri. 

✓ Pohon. Bahkan pepohonan pun menjadi guru yang mampu mengajak kita untuk lebih reflektif dan kontemplatif. Kita sering kali memiliki rasa kemelekatan yang tinggi, menganggap bahwa selamanya akan tetap seperti itu. Rupanya perlu waktu untuk menghayati cara kerja Semesta. Banyak hal yang perlu "maintenance and repair", bukan hanya benda-benda elektronik kesayangan di rumah, tapi lebih dari itu kita perlu melakukannya untuk diri sendiri, dan relasi dengan siapapun apalagi orang-orang terdekat yang selalu bersama kita. Jika upaya maintenance itu tidak berbuah dengan baik, kita perlu melapangkan hati untuk melepaskan apa yang harusnya dilepas. Melepaskan memiliki ragam makna; terlepas secara ikatan, terlepas secara emosional, terlepas secara identitas, dll. Namun yang paling penting untuk dipahami dari seluruh perjalanan hidup ini adalah bahwa kita tidak benar-benar memiliki apa-apa. Sehingga perlu untuk belajar melepaskan sebagaimana kita belajar menerima. Semuanya akan bekerja sesuai kapasitasnya. Jika harus layu lalu tumbuh kembali, atau gugur lalu rimbun kembali; tak mengapa. Terkadang kita harus memilih re-start untuk menyegarkan kembali. 

✓ Air dalam bejana. Untuk memperoleh air yang jernih, terkadang kita perlu memberi waktu sejenak hingga kotoran air terkumpul di dasar bejana. Kita hanya perlu bersabar beberapa saat agar kotoran tidak tercampur dengan riaknya. Seolah-olah berpesan pada kita, bahwa emosi itu seperti riak dalam bejana, kita perlu membiarkannya tenang dulu agar ketika mengambil keputusan berdasarkan kesadaran murni, tidak ternodai oleh kotoran-kotoran tadi. 

Tidak perlu sebuah email atau chatting-an di media sosial untuk mendeskripsikan “pesan”. Pesan tidak selalu harus berwujud teks agar dapat ditangkap dengan jelas dan jernih, juga tidak selalu berupa ungkapan nasehat dari lisan seseorang untuk bisa dimaknai sebagai pesan. Jika kita lebih peka, setiap harinya ada begitu banyak pesan-pesan Ilahi yang ingin disampaikan kepada kita, namun luput dari perhatian. Kita dapat mengamati fenomena yang timbul di sekeliling, terkadang jawaban yang kita butuhkan untuk permasalahan kita sebenarnya tidak jauh-jauh, hanya saja kita cenderung mengabaikan pesan-pesan itu.
 Ketika asik menonton sebuah film, nikmati film itu hingga selesai. Jangan biarkan satu film selesai begitu saja tanpa me-review pesan apa yang hendak disampaikan dari setiap adegan maupun dialog. Dalam sebuah film tahun 2011 yang diperankan oleh Jackie Chan, Nicholas Tse, dan Andy Lau, terdapat adegan berupa percakapan yang menarik antara Jackie Chan –yang saat itu berperan sebagai koki di Shaolin- dengan gurunya. 

Guru : “Hal terpenting dalam hidup ini ialah pengalaman dan belajar, aku telah mengatakan hal ini berkali-kali kepadamu. Tinggalkanlah kuil Shaolin dan pergi ke dunia luar.”
JC : “Guru, aku hanya tahu cara memasak, di luar sana aku tidak akan berharga. Aku tidak ingin pergi.” Jawab Jackie Chan dengan penuh keraguan
Guru : “Menurutmu, manakah yang lebih berguna antara sekeping emas dan setumpuk t anah?” 
JC : “Aku pikir sekeping emas.” 
Guru : “Bagaimana jika aku memberikanmu bibit tanaman? Sekarang, mana yang lebih berguna untuk bibit tanaman itu? Apakah sekeping emas ataukah setumpuk tanah?” 
 Pertanyaan-pertanyaan seperti ini hanyalah anologi, namun dari semua yang terhampar kita dapat memetik pesan. Setiap ciptaan diberkahi potensi masing-masing untuk bisa berkontribusi bagi kehidupan, bahkan setumpuk tanah pun yang menurut beberapa orang tidak jauh lebih berguna daripada sekeping emas, ternyata juga bermakna bagi sebibit tanaman. 

Alam semesta ini beserta isinya seluruhnya adalah hamparan ilmu dan pengetahuan. Tapi keduanya hanya bisa diraih oleh mereka yang membuka mata hati dan memberdayakan potensi akalnya. Berbahagialah jika kamu dapat belajar dari siapa pun, dari apapun dan dari ruang manapun yang terhampar di Universitas Kehidupan ini. 

Salam hangat, 
AUW


Kamis, 27 Maret 2025

Ramadan #27 : Rumah


Secara etimologi kita mengenal arti rumah sebagai sebuah bangunan untuk tempat tinggal, yang tersusun atas beberapa elemen seperti fondasi, lantai, dinding, atap, dan sebagainya. Mungkin kita cukup sering mendengar kalimat, "Home sick" atau rindu rumah dan ingin pulang. Tapi tak jarang juga kita temukan orang-orang yang justru tidak senang jika harus pulang ke rumah. Mereka yang selalu tertaut hatinya untuk kembali ke rumah, tentu karena menganggap bahwa rumah adalah tempat ternyaman untuk rehat dan mengisi ulang energi. Namu tidak bagi mereka yang justru merasa ingin kabur karena di dalam rumah energinya justru terkuras habis. Maka sebenarnya lebih dalam lagi, pemaknaan terhadap "rumah" tidak sebatas pada bangunan fisik semata, tetapi sebagai tempat pulang yang dapat memberikan rasa nyaman dan aman. 

Seseorang bisa nyaman dalam rumah yang sederhana karena kehangatan suasana yang terciptalah di dalamnya. Sebaliknya, seseorang dapat menderita dalam rumah yang mewah, karena tidak memperoleh ketenangan di dalamnya. Rumah tidak sebatas bangunan, rumah dapat berupa sosok manusia lainnya yang menjadi tempat pulang yang nyaman setelah bergelut dengan hiruk pikuk dunia yang memberatkan bahu. 

Jika kita amati, dari tiap-tiap elemen bangunan rumah, sebenarnya terdapat makna-makna filosofis yang apabila dipahami dengan baik maka sangat membantu untuk menciptakan keteraturan dalam hidup, seperti: 

✓ Fondasi, secara hakikat kita memaknai fondasi sebagai dasar yang menjadi simbol stabilitas. Saat ingin membangun rumah, fondasi menjadi elemen pertama dan harus benar-benar kokoh. Relevansinya dengan kehidupan manusia, bahwa kita memerlukan dasar yang kuat di awal, berupa keyakinan atau akidah yang ditancapkan lebih kuat lagi agar tidak goyah dalam menghadapi ragam persoalan. 

✓ Lantai, mencerminkan tempat di mana kaki kita berpijak dan mengayunkan langkah demi langkah untuk bisa mencapai tujuan. Maka jika dalam rumah kita tidak bisa menentukan arah karena tak mampu berpijak, di sanalah kebimbangan-kebimbangan mulai muncul.

✓ Atap, tiap rumah mulai dikatakan aman dari panas maupun hujan, jika ada atap yang memayungi. Atap memberikan perlindungan, dan secara filosofis juga menjadi penampungan impian dan harapan dari setiap penghuni di dalamnya. Atap ini berupa pemberian rasa aman dan melindungi tiap aspirasi orang-orang di dalamnya dari pengaruh eksternal. Dalam arti bahwa sebaik-baik rumah adalah tempat di mana kita dapat merasa damai dan memberikan keteduhan dalam kebersamaan. 

✓ Dinding, ini juga menjadi bagian yang kiranya perlu ada. Dinding dapat dimaknai sebagai boundaries atau batasan. Dengan memberikan batasan yang jelas, privasi tiap orang akan merasa lebih dihargai. Hal ini juga memungkinkan kita untuk lebih preventif terhadap gangguan dari luar. Kenyamanan tidak hanya soal kedekatan, keakraban, dan kebersamaan semata. Namun kenyamanan juga dapat terbentuk di atas pengertian dan sikap saling menghargai satu sama lain. 

Beberapa poin di atas adalah bentuk refleksi sehari-hari, melihat bagaimana kita memaknai sesuatu di luar diri dan menariknya ke dalam untuk bisa dipetik pelajaran. Sehingga rumah tidak sekadar simbol, namun makna. Kita perlu merasakan bahwa tujuan dari rumah bukan sekadar tempat badan kita tinggal, tidur, makan, dsb. Tapi kita ingin mental kita pun turut merasakan dukungan emosional dan spiritual, memiliki identitas dan kenangan, juga menjadi ruang aman dan nyaman untuk berinteraksi. 

Jika kamu telah memperoleh "sakinah" (kedamaian) itu di dalam rumah, sesungguhnya itu adalah sebuah kenikmatan yang besar. Jaga dan senantiasa mohon perlindungan dari-Nya, karena Dia sebaik-baik pemelihara. Jika belum memperoleh kedamaian di rumah, temukan kedamaian itu dalam dirimu terlebih dahulu. Tidak dengan mencarinya pada jalan-jalan yang potensial merugikanmu. Pun jika perlu bantuan pihak lain seperti bantuan profesional, tak ada salahnya melakukannya. Tapi aku selalu percaya, akan ada "rumah" yang akan benar-benar dapat menjadi tempat kamu pulang, di mana kamu dapat dengan aman dan nyaman untuk bercerita. Sekali lagi, rumah tidak sebatas pada bangunan fisik. Teman-teman yang baik, pasangan yang suportif, dan komunitas yang positif juga bentuk lain dari rumah. Kamu tidak sendiri. 

Salam hangat, 
AUW

Rabu, 26 Maret 2025

Ramadan#26 : Senandung Anak Rantau


Di bawah langit jingga aku terpaku 
Terlukis wajah Ayah-Ibu
Langkah tak pernah ragu
Walau bergelut dengan rindu
Senandung anak rantau 
Selalu merdu meski sendu 

Bahu berat di tanah orang 
Meski badai tetap diterjang 
Demi impian setinggi bintang 
Demi janji untuk pulang....

Kamu boleh pergi sejauh yang kamu mau, kamu boleh memilih masa depan apa yang ingin kamu inginkan. Namun, ada satu hal yang tak akan pernah luput, jejak-jejakmu di tanah kelahiran akan selalu membekas, menanti hadirmu dengan membawa gumpalan kisah haru penghadir selaksa bahagia. 

____

Bagi umat Muslim yang berada di rantau, momen-momen akhir Ramadan adalah momen hangat yang dinanti-nanti untuk pulang ke kampung halaman. Laut, darat, dan udara menjadi saksi atas kerinduan dan harapan para pemudik untuk berjumpa dengan keluarga terkasih. Selalu ada cerita menarik dari mereka yang berani mengambil keputusan hidup di tanah rantau, terlepas dari kesukaran yang dilalui. 

Baik secara personal maupun sosial, merantau memiliki keutamaan yang mungkin jarang kita sadari. Meskipun begitu, tinggal bersama orang-orang terkasih di kampung tentu menjadi dambaan juga, namun hidup tak selalu seperti yang kita inginkan. Kehidupan selalu memberikan pilihan-pilihan, tentukan pilihan itu sebelum pilihan itu yang menentukan hidup kita. Aku tergolong ke dalam mereka yang jauh dari keluarga. 

Terhitung tiga belas tahun tidak menetap bersama orangtua memberiku ragam pandangan tentang kehidupan. Diawali dengan niat menuntut ilmu hingga rela berpisah dengan keluarga, dan terus berlanjut hingga bekerja di tanah rantau. Pelajaran, kerinduan, kesedihan, ketegaran, dan impian seakan bercampur menjadi satu. Tentu bukan hanya aku, melalui perbincangan dengan teman-teman yang juga hidup di rantau, aku mencoba merangkum pelajaran penting yang akan aku bagikan di kolom ini. 

Sebelumnya aku ingin menyampaikan, bahwa tulisan ini tidak bermaksud untuk membandingkan dua kondisi tertentu, tapi berusaha mendeskripsikan beberapa hikmah dari kehidupan anak rantau. Tujuannya, pertama untuk menguatkan lagi bahu mereka yang memilih jalan tersebut mengingat banyak keutamaan yang dapat diperoleh. Kedua, untuk berbagi cerita kepada mereka yang tidak berada pada jalan itu. 

Setidaknya ada beberapa catatan penting yang aku anggap sebagai nilai plus dari perantauan, seperti: 
✓ Memberikan pengalaman hidup yang luar biasa dan perspektif yang luas. Merantau memberi kesempatan besar bagi kita untuk mempelajari hal-hal baru, beradaptasi dengan lingkungan dan budaya yang saja berbeda, yang mana hal ini dapat membantu kita untuk semakin bertumbuh. Berjumpa dengan ragam karakter, mempelajari banyak nilai dan banyak pandangan tentunya akan membentuk mindset kita semakin berkembang. 
✓ Lebih mandiri dan meningkatkan kedewasaan. Dengan merantau, seseorang seakan dipaksa untuk bertanggung jawab atas hidupnya sendiri, atas pilihan-pilihannya, dan mengatasi tantangan di kampung orang. Mulai persoalan perut, tempat tinggal, mengatur keuangan, hingga persoalan lainnya. 
✓ Pendidikan dan skill. Banyak peluang belajar dan mengasah skill di tanah rantau, terlebih lagi jika tempat rantau itu merupakan kota besar. Mengikuti pelatihan, kajian, ruang-ruang belajar, meningkatkan hard skill maupun soft skill yang mungkin saja harus dicoba untuk bisa survive/bertahan hidup. 
✓ Jaringan yang luas. Tentu bagi perantau, lingkup pertemanan adalah salah satu penunjuang kesuksesan. Ketika jauh dari keluarga, kita perlu memperluas jejaring sosial untuk dapat memperoleh informasi maupun peluang-peluang keberuntungan. Biasanya, anak rantau tumbuh dengan jiwa humanis dan solidaritas yang tinggi. 
✓ Pertumbuhan Finansial. Kebanyakan orang-orang yang memilih untuk merantau dengan tujuan untuk mengubah nasib atau memperbaiki taraf kehidupan secara ekonomi dan strata sosial. Tentu berat hati memilih untuk jauh dari keluarga, namun ada cita-cita untuk membahagiakan orang-orang tercinta, mungkin dengan transferan yang masuk setiap bulannya cukup membantu meringankan beban keluarga di kampung. Sudah banyak kisah perantau yang sukses dan menjadi pembuka jalan bagi keluarga mereka dengan memberikan modal usaha. 
✓ Rasa syukur dan cinta yang lebih dalam. Jarak yang tercipta antara anak rantau dan keluarga selalu diiringi dengan kerinduan. Rindu ini menjadi motivasi untuk semakin semangat mencapai impian, karena ada tujuan yaitu pulang membawa kabar gembira. Dan setiap momen pulang ini, terdapat rasa cinta yang semakin dalam kepada keluarga, seakan ingin benar-benar memanfaatkan kebersamaan karena menyadari bahwa kesempatan pulang tidak datang tiap saat. Kita semakin menghargai kehadiran orang-orang sekitar, yang menumbuhkan rasa syukur di hati. 

Dari sekian banyak yang dialami seorang perantau, aku hanya ingin membagikan hal basic ini saja. Mengenai sakit, lelah, dan kesulitan yang dialami biarlah itu menjadi batu pijakan yang Allah catat sebagai bentuk perjuangan hamba-Nya untuk memperoleh hidup yang lebih baik. Jalan apapun yang kita pilih, pastikan menjadi kesempatan untuk belajar dan bertumbuh. Aku teringat pada pesan Imam asy-Syafi'i, "Merantaulah, aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika mengalir, akan menjadi jernih. Jika tidak, akan keruh menggenang." 

Selamat memintal rindu untuk diburaikan saat waktunya tiba. 

AUW



Selasa, 25 Maret 2025

Ramadan#25 : Bukti Hidupmu Lebih Berkualitas

Saat menulis ini, aku sedang tidak baik-baik saja. Kupikir setiap manusia memiliki masa up dan down dalam hidupnya, tidak selalu ada tawa sebagaimana tak selalu ada tangis. Bagi seorang penulis, kebahagiaan maupun rasa sakit sama saja mampu menjadi sumber ide, dan sebaik-baik ide adalah yang diikat dengan menjadikannya sebuah karya. Aku perlu menyampaikan terlebih dahulu bahwa judul tulisan ini aku comot dari memoriku tentang sebuah buku yang pernah aku beli tahun 2016 silam. Buku genre motivasi Islam yang berjudul Don't Cry Allah Loves You karya penulis produktif, Ahmad Rifa'i Rif'an. Selain karena gaya tulisannya yang aku sejak dulu, Mas Rifa'i juga memiliki nama yang sama dengan ayahku sehingga lebih mudah bagiku mengingatnya. 

Aku sempat termenung, memikirkan betapa kaya dan uniknya alam semesta dan manusia yang hidup di dalamnya. Sehingga ketika berjumpa manusia dengan karakter baik dan selalu menghargai yang lain, rasanya ingin memeluknya erat sembari mengucap syukur pada Tuhan. Karena pada ruang dan waktu yang lain, ada karakter manusia yang membuat bibir tak henti berucap istigfar serta menyisakkan sesak di dada. Di suatu tempat kita dihargai dan bernilai, namun di sisi yang lain ada tempat yang menganggap kita seperti tempat sampah yang bebas dilempari kotoran. 

Apakah kita tidak boleh menyesalkan pertemuan dengan orang-orang yang membawa energi buruk? Apakah kita perlu marah pada orang-orang yang mencemooh? Bagaimana cara kita sebaiknya menyikapi kritikan atau bahkan celaan dari orang lain yang mungkin sangat menyakitkan? 

Aku teringat pada tulisan Mas Rifa'i Rif'an, ketika ia mengutip sambutan Halle Berry pada sebuah event, "...Kamu tidak berhak dipuji kalau kamu tidak bisa menerima kritikan." Akan selalu ada yang tidak menyukai kita, sebaik dan sesukses apapun kita. Sejenak aku melakukan inner work, mencoba berdialog dengan diri sendiri, apakah aku membutuhkan komentar-komentar itu untuk pertumbuhanku atau tidak? Jika ternyata komentar itu perlu, maka aku ambil sebagai bahan pelajaran untuk lebih baik, dan jika tidak maka harus dipaksakan untuk pamit agar tidak mengganggu konsentrasi dalam meraih tujuan. Jika setiap hari disibukkan dengan menganggap orang yang tidak menyukai kita, lantas kapan kesempatan untuk menyusun kehidupan yang lebih baik? 

Kita mungkin tak asing lagi dengan pribahasa "Semakin pohon itu berbuah maka semakin banyak yang ingin melemparinya." Jika ditelusuri lebih dalam, relevansi kehidupan manusia dengan analogi tersebut sangat jelas. Semakin berkualitas hidup seseorang, semakin ramai komentar yang menyerang. Mungkin kita hanya fokus membenahi apa yang menjadi milik kita, menanam, memupuk, dan merawatnya tanpa ada niat untuk mengusik apa yang ada pada orang lain. Namun kita tidak dapat pungkiri bahwa ada banyak jenis hati di sekeliling kita. Ada hati yang sakit, yang mungkin saja tidak menyukai kebahagiaan kita, selalu merasa bahwa kita sebagai ancaman baginya meskipun kita sama sekali tidak pernah menganggapnya demikian. Hati yang sakit hanya perlu diobati, bukan untuk diladeni. 

Tuhan sengaja menghadirkan orang-orang yang "unik" itu dalam hidup kita, agar dalam perjalanan menuju kesuksesan menjadi lebih berwarna dan menantang. Kebanyakan orang-orang hebat hari ini adalah orang-orang yang bijak dalam menyikapi kritikan dan momen buruk dalam hidupnya. Dia melaluinya dengan persepsi bahwa celaan itu wujud lain dari motivasi, pembuktianlah yang akan membuat kualitas hidup kita semakin jelas, bukan dengan membalas keburukan itu dengan keburukan. 

Kuncinya seperti ini, jika ada orang yang selalu mencari-cari kesalahan orang lain; jika ada orang yang selalu mencela dan berkata kasar; jika ada yang selalu menghakimi tanpa mengadili; dan jika ada orang yang gemar bermasalah dengan siapapun, jangan menghabiskan banyak waktu untuk meladeninya. Karena sebenarnya dia butuh pertolongan untuk dirinya sendiri, agar sembuh dari luka dan penyakit hati yang bisa menyebabkan orang lain juga tercemar oleh lukanya. 

Aku berharap kita dapat menormalisasi ucapan-ucapan positif kepada siapapun, minimal berprinsip memanusiakan manusia, yaitu dengan memperlakukan manusia lainnya sebagaimana kita ingin diperlakukan. Jika tidak bisa membuat orang lain tersenyum, minimal kita tidak menggores luka di hatinya apalagi menjadi alasan dia bersedih. Karena akan sangat mendebarkan jika orang lain yang kita sakiti mengadu langsung pada Tuhannya. Sebagaimana yang disampaikan Baginda Nabi Saw., yang diriwayatkan oleh Muttafaq 'alaih bahwa, "Berhati-hatilah pada doa orang yang terzalimi, karena tak ada penghalang antara doanya dengan Allah." 

Semakin kita berproses untuk meningkatkan value, semakin besar pula ujian yang Tuhan sediakan. All is well in your world 

AUW