Jumat, 26 Juni 2020

Merayakan Multikultural: Keberagamaan di Tengah Keberagaman (Sebuah Refleksi Teologis)

Belajar dari sejarah dan melihat realitas bahwa bangsa ini terlahir dari berbagai macam perbedaan, baik suku, budaya, ras, adat istiadat, agama, bahasa, dan masih banyak jenis perbedaan lain. Seringkali seseorang takjub pada keindahan pelangi yang terdiri atas aneka macam warna, tetapi enggan menerima kenyataan bahwa perbedaan sebenarnya membuat sesuatu jauh lebih bermakna. Indonesia ini terbentuk di atas kemajemukan, dilatarbelakangi oleh masyarakat yang multikultur. Dalam ranah multikultural, sebaiknya kita tidak hanya berhenti pada toleransi pasif, dalam artian kita tidak boleh hanya sekadar memahami kenyataan bahwa kita ini plural dan ada perbedaan di antara kita. Lebih dari itu, kita harus melangkah jauh, memasuki dan menyelami samudera perbedaan itu. Saling mengenal, membangun dialog, memperkuat solidaritas tanpa memandang latar belakang, dan sama-sama memperjuangkan hak sebagai warga negara. 
Bukan hanya perbedaan lintas agama yang patut dihargai, karena sekarang ini perbedaan lintas ormas dalam suatu agama justru lebih sering mengalami kontraversi. Antara satu ormas dengan ormas lainnya tak jarang saling gesek dan menganggap kelompoknya sebagai superior dan yang lain inferior, padahal menganut agama serta menyembah Tuhan yang satu dan yang sama. Meminjam istilah Dr. Amin Abdullah  dalam bukunya Studi Agama, bahwa yang menjadi polemik umat saat ini ialah adanya penyakit truth claim atau klaim kebenaran, yang membawa implikasi bahwa adanya pengkotak-kotakan pemahaman teologi pada enclave tertentu. Bukan hanya dalam persoalan teologi sebenarnya, hal sederhana seperti perbedaan etnik maupun gender pun acapkali ditemui pihak-pihak yang gemar melakukan truth claim. 
Sejauh ini saya menganggap bahwa yang membuat seseorang terperangkap dalam tempurung adalah faktor pergaulan, bacaan, dan pengalaman. Seseorang bisa mengeklaim bahwa pendapatnya yang paling absah dikarenakan bahan bacaannya hanya itu-itu saja, dalam arti sempit tidak memberikan kebebasan bagi otaknya untuk mengonsumsi bacaan dan  dari penulis yang berbeda. Sama halnya saat seseorang memutuskan untuk mendengarkan ceramah dari satu ustad saja, dan menafikan ceramah dari ustad lain yang tidak sekufu dengannya. Saat saya menulis paragraf ini, saya sempat berpikir bahwa mereka yang menutup diri dari mempelajari ilmu lain dan enggan keluar dari zona nyaman, sebenarnya sedang mendeklarasikan diri kepada dunia bahwa ia seorang agresif dan fanatik. Mungkin stigma ini terkesan barbar, tetapi untuk bisa berlaku moderat dan toleran terhadap orang lain yang berbeda dengan kita, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah keluar dari zona nyaman dan mengecap banyak pengalaman.
Bagaimana bisa seseorang bisa mengetahui pedisnya seblak jika tidak pernah mencobanya? Jika hanya mendengar penilaian orang lain tanpa merasakan tampaknya kurang adil dan tidak pantas dijadikan sebuah alasan untuk berpendapat. Demikian yang harusnya kita pahami sebelum memutuskan untuk menilai suatu kelompok atau paham tertentu. Saya begitu tertarik pada perkataan seorang kawan, Mbak Stevie Evans, yang kini hidup di Finlandia -terima kasih telah banyak memberi pengalaman-:
“Kalau saya memiliki uang 500 juta saya akan memilih untuk menikmati alam liar Afrika selama 3 bulan, daripada membeli tas Hermes. Kalau saya memiliki uang 300 juta, saya akan memilih menjelajahi Amerika Latin yang eksotis, daripada membeli jam tangan Rolex. Kalau saya memiliki uang 100 juta, saya akan memilih untuk road trip di Asia Tenggara daripada membeli pakaian berlabel Louis Vuitton ....”
Kita memang akan selalu dihadapkan oleh pilihan, dan itu adalah pilihannya yang menurut saya sangat bijak. Mengapa saya menyertakan perkataan beliau? Karena menurut saya membeli pengalaman jauh lebih berharga, pengalaman adalah investasi hidup yang bisa memperkaya wawasan kita. Dengan pengalaman, kita mungkin akan mengerti bahwa kita tidak akan pernah mencapai kebenaran absolut. Dengan pengalaman kita bisa melihat dunia lebih luas, yang secara perlahan membuat kita berpikiran terbuka dan semakin toleran. Agaknya nilai kebenaran itu memang relatif; bagi seorang muslim dan umumnya bagi orang-orang Timur cipika-cipiki antara laki-laki dan perempuan adalah salah dan haram hukumnya, tetapi bagi orang Barat bahkan sebagian orang Indonesia menganggap hal itu lumrah dan sebagai bentuk keakraban. 
Orang Barat melihat kita makan pakai tangan itu menjijikkan dan tidak higienis, bukankah ada alat makan? Sementara orang Indonesia melihat orang Barat hanya membasuh pakai tisu setelah buang air, dianggap menjijikkan dan tidak higienis, bukannya ada air? Padahal keduanya bukan kebiasaan yang menjijikkan, melainkan way of life atau sebuah cara hidup yang sudah terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Dari hal sederhana ini sebenarnya saya ingin mengatakan bahwa perbedaan yang terjadi antar paham teologi di Indonesia bukanlah sesuatu yang patut dipersoalkan, semua hanya perbedaan sudut pandang, dari sisi mana kita berpijak saat melihat sesuatu. Tak masalah jika harus berbeda, yang terpenting adalah kita bisa hidup berdampingan dengan tetap menjaga relasi sebagai sesama umat manusia.
Seorang muslim wajar bila menganggap bahwa agamanya benar dan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, umat Kristiani juga demikian menganggap bahwa ajaran Kristen sangat sesuai dengan Pancasila terutama soal kemanusiaan, begitu pula dengan umat Hindu, Budha, dan penganut kepercayaan yang lain. Masing-masing kepala membela apa yang ia yakini, dan itu adalah manusiawi. Yang tidak wajar adalah ketika seseorang menjelekkan dan menjatuhkan kepercayaan orang lain apalagi jika sampai pada tahap penggolongan loket surga-neraka. Bahkan dalam beberapa kasus, sangat mudah seseorang men-judge saudaranya sesama muslim sebagai kafir dan pelaku bid’ah hanya karena perbedaan paham syariat. Meskipun begitu, bentuk keberagamaan manusia tentu akan mengalami transformasi seiring bertambahnya pengetahuan dan pengalaman hidup. 
Agama mengajarkan perdamaian dan persatuan umat, tetapi betapa banyak permusuhan dan pertikaian yang terjadi atas nama agama. Sehingga dalam kasus ini, saya sering kali menolak ajakan untuk bergabung ke dalam ormas-ormas yang mengobral nama agama serta kemaslahatan umat. Saya tetap mengapresiasi para pendiri organisasi yang memiliki tujuan awal untuk berdakwah dan mempersatukan umat. Akan tetapi, saya tidak ingin menutup diri melihat fakta hari ini, bahwa umat justru terpecah belah dan saling menghakimi satu sama lain demi membela organisasi dan ustadnya masing-masing. NU memiliki ustadnya sendiri, Muhammadiyah, Wahdah Islamiyah, dan ormas lainnnya juga memiliki ustadnya sendiri, sehingga tak jarang ada pihak yang hanya ingin mendengarkan ceramah dari ustadnya dan menepis yang lain karena menganggap tidak sekufu. 
Ironisnya lagi, cara berbusana seseorang sering kali dikait-kaitkan dengan teologi maupun organisasi tertentu. Berkali-kali saya bertemu orang yang melontarkan pertanyaan, “aliran kamu apa? Apa kau Syiah? Kamu anggota WI?” Beberapa di antara sekian banyak pertanyaan yang menurut saya “kurang sopan” untuk dilontarkan, sama saja ketika seseorang mengurek hidup orang lain dengan menanyakan berapa gajimu. Jika kita ingin merenung sejenak, sebenarnya sejak kapan pakaian menjadi simbol teologi tertentu atau bahkan menjadi simbol kesalehan seseorang? Di Eropa sana, pertanyaan “agamamu apa” adalah sebuah pertanyaan sensitif, karena apa pun latar belakang agama atau bahkan etnik seseorang bukanlah hal yang penting untuk menjalin persaudaraan. Konteks pertanyaan yang demikian menurut saya tidak jauh-jauh dari rasisme dan babak awal dari bentuk diskiriminasi. 
Saat melihat perempuan memakai celana sejengkal tidak patut jika kita mengeklaimnya sebagai penghuni neraka. Saat bertemu perempuan serba tertutup, memakai cadar atau bahkan purda, bukan berarti dia seorang fundamentalis atau malah melabelinya teroris. Saat bertemu dengan seseorang yang berpikiran bebas-rasional-tanpa batas, tidak serta merta kita menganggapnya liberalis. Karena teologi tidak memiliki seragam khusus, apalagi jika hal demikian kita temui di daerah yang multikultur seperti Indonesia ini, yang mana semua jenis kebudayaan diserap habis, baik dari Barat maupun Timur. Negara ini sudah diakui dengan kebhinnekaannya, maka absurd jika warganya sendiri yang menodai nilai-nilai Pancasila atas nama agama atau malah mengatasnamakan bangsa di balik praktik politik identitasnya. 
Setelah mengalami transformasi keberislaman, saya merasakan ada banyak perbedaan yang memang tidak untuk disamakan, tetapi disatukan. Saya percaya bahwa kreatifitas manusia bukanlah suatu hal yang patut diragukan, terbukti dari banyaknya hal yang dapat manusia ciptakan, termasuk budaya dan aturan baik tertulis atau pun tidak. Mengenai pluralitas dan media pemersatu, selain telah diterangkan dalam agama juga terdapat di dalam ideologi dan dasar negara. Selain itu, di setiap etnik di Indonesia juga telah mengatur dan bahkan memberi solusi terkait perbedaan di tengah masyarakat yang plural melalui aturan adat istiadat. Sebagaimana yang kita temukan pada salah satu etnik di Sulawesi Tenggara, yakni etnik Mekongga. 
Jika menilik kehidupan masyarakat Mekongga yang sebagian besar mendiami wilayah Kolaka ini, sebenarnya sangat filosofis, sejalan dengan konsep “Bhinneka Tunggal Ika”, dan mencerminkan dukungan terhadap pluralisme di Indonesia. Hampir di setiap sendi kehidupan masyarakat Mekongga selalu disimbolkan dengan bentuk lingkaran, mulai dari tarian lulo yang disebut-sebut sebagai tarian pluralisme dan multikultural, hingga pada instrumen adat kalosara yang disebut sebagai media pemersatu umat. Saya pribadi bukan terlahir sebagai etnik Mekongga, akan tetapi sebagai seseorang yang lahir dan tumbuh di wilayah Mekongga ini sangat merasakan toleransi dan solidaritas masyarakatnya.
Di sana kita bisa menemukan orang-orang yang bangga dengan kelompoknya, tetapi juga bangga dengan kamajemukan. Jika orang lain masih sibuk membicarakan hukum mengucapkan selamat Natal, selamat Imlek, dsb, sebagian besar mereka justru saling berbagi dan bersilaturahmi di hari-hari bahagia seperti itu. Di kampung saya, sebuah masjid berhadapan persis dengan gereja, dan gereja bersampingan dengan pura sebagai tempat peribadatan umat Hindu. Hal ini tidak membuat masyarakat bertikai dan saling menuding, sekalipun Islam sebagai agama mayoritas di sana dan Kristen minoritas (Hindu lebih mendominasi daripada Kristen). Karena selain nilai-nilai agama dan kebhinnekaan, mereka juga diikat oleh kalosara sebagai media yang harus dihormati bagi seluruh masyarakat di Bumi Mekongga. 

Berada di lingkungan dengan paham teologi masyarakat yang multikultural dan juga multietnik, memberikan gambaran tersendiri bagi saya tentang pentingnya berjiwa nasionalis, bukan hanya agamais. Karena betapa banyak yang mengaku pegiat dakwah tetapi pada kenyataannya tidak mampu menghargai perbedaan. Multikultural seharusnya dijadikan ajang untuk mendeklarasikan pada dunia bahwa bangsa ini sangat kaya dan unik. Sudah saatnya perbedaan itu dirayakan, bukan dipersoalkan apalagi diperkarakan. 

Salam hangat,
AUW

Kamis, 25 Juni 2020

Belajar Ikhlas & Bersabar; Novel Seberkas Cahaya di Langit Ayasofya

Judul Buku : Seberkas Cahaya di Langit Ayasofya
Penulis : Andi Ulfa Wulandari
Penerbit : Kanaka Media 

Bagaimana rasanya menikah tanpa cinta? Sejauh mana seseorang bisa menutupi luka batinnya? 

Bisakah seseorang belajar mencintai setelah akad? Dan seberapa kuat seorang istri menerima kehadiran perempuan lain dalam rumah tangganya? Seberapa besar keinginan seseorang untuk bisa meraih apa yang dia inginkan?

Lanjut kuliah setelah menikah bahkan hingga menjadi awarde beasiswa YTB Turki, salah satu beasiswa bergengsi yang diidamkan banyak orang. Merasakan LDM (long distance marriage) sudah menjadi konsekuensi bagi seorang wanita bercita-cita tinggi seperti Kirei. Ujiam yang datang bertubi-tubi semakin membuatnya dewasa dan menemukan eksistensi dirinya. Percintaan, pengkhianatan, pendidikan, keberagamaan, kesetiaan,semua menyatu dalam novel ini. 


Begitu kiranya isi novel ini, tentang Kirei yang berulang kali memintal harapan, dan tentang takdir  yang tidak menunggu kesediaan manusia.


#AUW
#writingstyle



Minggu, 31 Mei 2020

Nikah Muda atau Kuliah Dulu? Ini Kisahku

Dalam beberapa kasus, perempuan selalu diidentikkan dengan kata "lemah", bahkan muncul alibi yang mengatakan bahwa area kerja perempuan hanya berkisar tiga tempat: dapur, kasur, sumur. Khususnya bagi masyarakat pedesaan, perempuan yang menikah muda selalu dipatahkan semangatnya dengan doktrin bahwa ia akan cepat terlihat tua, mengurus anak, dan tidak akan berkesempatan untuk mengecam pendidikan. Untuk menepis paradigma itu, aku ingin berbagi seputar perjalanan hidupku sampai hari ini. Gak ada yang hebat sih, gak ada yang patut dibanggakan, cuma buat berbagi semangat. Just it! Jadi aku termasuk perempuan yang menikah muda, di usia 19 tahun. Saat itu aku masih menjalani studi di salah satu kampus swasta. Pas mau nikah nih, banyak banget yang komentarin pedis, dibilang gak menghargai ortulah yang mau lihat sarjana dulu, digosipin MBA (married by accident) naudzubillah, sampai dikatain kalau aku bakalan putus kuliah & kewalahan ngurus RT karena masih anak bawang katanya. Lucunya, mereka yang ngomong kaysk gini gak sadar, kalau dulu mereka bahkan ortu mereka nikah di usia lebih muda lagi, malah ada yang gak tamat SD. 

Pasca pernikahan, aku hijrah ikut suami ke kota tempat dia tinggal. Aku memang udah gak kukiah di kampus yang dulu lagi, tapi didaftarin kuliah di salah kampus negeri sekaligus di kampus swasta juga. Jadi 2 kampus sekaligus buat jaga-jaga kalau yang kampus satunya gak lolos. Alhamdulillah keduanya loloa, Sist, kampus swasta aku dapat beasiswa AMCF. Bungkamlah para julidess yang menganggap aku bakalan putus kuliah karena pernikahan. Nikah itu bukan penghalang, justru peluang, Sist. Alhasil aku jalanin tuh kuliah di 2 kampus sekaligus, dengan napas yang tersengl-sengal ngejar jam tayang, ehh jam kuliah maksudnya hehe. Jarak antar 2 kampus ini lumayan jauh, Sist, tapi udah enjoy aja sambil baw gorengan ke kampus buat didagangin. Maklumlah, perjuangan pengantin baru yang gengsi minta duit ortu waktu itu, akhirnya nekat jualan bakwan + tahu isi modal 20 rebu, wkwk. Hp dipakai berdua, berhubung Hp suami jatuh dan rusak. Alhamdulillah disyukuri, jika dalam sehari bisa beli tempe harga 3 ribuan itu udah lumayan banget buat makan 3 hari. Eh, suami waktu itu resign, Sist, pas seminggu aku nikah. Iya, dia sempat kerja di salah satu bank konvensional tapi udah gak mau lanjut lagi. Jadinya pas awal-awal tuh dia pengangguran, tinggal di rumah aja. Sempat kerja setelah itu di perusahaan swasta, tapi belum cukup sebulan resign lagi, katanya gak srek sama aturannya. Pengangguran lagi deh kurang lebih 6 bulan di rumah aja bantuin buat gorengan buat aku jual ke kampus haha. Pulang kampus aku mampir ke ruko tempat konveksi buat ngejahit, meskipun rutinitas ini gak berjalan lama, karena aku ditawarin buat jadi guru les bahasa Arab & Tahsin. Setuju aja apalagi memang kondisi keuangan lagi sulit kan, suami juga belum dapat kerjaan. Aku ngajar tiap sore pulang kuliah sampai jam 10 malam, Sist, bawa motor sendiri biasanya. 

Oh ya, orang-orang yang gosipin MBA itu akhirnya pada melongon karena aku belum hamil-hamil juga. Qaddarullah, waktu itu selalu tes tapi hasilnya belum positif juga. Lanjut bahas tadi! Siang itu aku cek WA di Hp Oppo R1001 yang udah tua itu, ada loker di perusahaan swasta. Iseng aku minta suami daftar, karena udah berkali-kali kirim lamaran kerja ke berbagai tempat tapi gak ada balasan yang diharapkan sama sekali. Tiga kali daftar PNS juga gak lolos-lolos. Awalnya dia ogah, udah pesimis duluan dan gak tertarik sama perusahaannya. Tapi aku paksa, kusiapkan semua berkasnya mulai dari CV, lamaran, ijazah, dsb. Akhirnya luluh juga dia, dan siang itu dia langsung bawa sendiri ke alamat tertera + interview saat itu juga. 
Pas pulang ke rumah, dia senyum-senyum malu kan, keterima kerja, huhuh. Semuanya berjalan lancar hingga hari ini masih bertahan di tempat yang sama alhamdulillah, kadang dia bosan tapi tetap aku ingatkan tentang perjuangan di awal-awal yang beneran susah. Pernah gak ngantongin duit sama sekali, tapi rezeki Allah tak pernah alpa. Serius! Karena merasa ribet selalu nganter jemput aku tiap hari, dan aku lelah nungguin dia di pinggir jalan depan kampus sampai malam, nunggu berjam-jam, Hp cuma satu dan dia yang bawa, dan aku harus sabar nunggu dia jemput setelah pulang kerja, kadang terus ngajar les sampai jam 10 malam. Inisiatifnya kami nambah kendaraan, karena lagi ada rezeki diputuskanlah beli motor lagi buat aku pakai.

Memasuki tahun kedua pernikahan aku hamil, aku masih pulang balik kampus & mengajar. Suami nyuruh berhenti ngajar dulu, takut kecapean, aku nurut setelah lama berdebat. Karena aku gak mau berhenti wkwk, tapi kuliah tetap jalan sampai usia kandungan memasuki 8 bulan, aku libur semester. Liburnya cuma sebulan, dan pas mau lahiran aku nambah libur (bukan cuti) cuma izin lahiran di kampung. Usia bayi 21 hari udah aku bawa naik kapal karena mesti masuk kuliah lagi. Artinya 3 minggu pasca lahiran aku udah masuk kampus, bawa kendaraan sendiri. Usia bayi 2 bulan udah aku bawa ke kampus, pas 6 bulan udah aku bonceng sendiri pakai motor, pakai gendongan depan, melalui ruas jalan yang macet. 

Bukannya mau ngebanggain diri, tapi serius aku juga gak sadar kok bisa kayak gini ya haha. Semenjak semester 1, baik di kampus sebelumnya maupun di kampus yang baru, nilaiku gak pernah mengecewakan, karena proses yang kulalui juga gak setengah-setengah. IPK 4.0 alhamdulillah udah langganan persemester, bukan cuma kaget aku malah sempat berkaca-kaca, nangis terharu. Masya Allag banget, aku udah momong bayi gini, udah sibuk banget, masih sempatnya totalitas dalam ngerjaim tugas kuliah. Ini semangat aku datang darimana? Aku sering heran aja, ternyata pengalaman hidup yang rumit serta nyinyiran orang adalah pompa semangat. Dan yang gak kalah penting, meksipun udah jadi ortu, aku selalu menganggap diri aku ini seperti anak kecil bagi ayah-ibu. Aku selalu berpikir bagaimana cara buat mereka bangga, buat mereka senang punya anak kayak aku. Karena dulu aku anak yang sering buat susah dan nakal banget kan hohoh. 

Dan syukur, sampai hari ini udah ada 20-an judul buku yang aku tulis, di tengah kesibukan sebagai mahiswa, istri, ibu, dan guru. Iya, aku udah gak ngajar les bahasa Arab lagi, tapi ngajar tahfidz di sekolah tingkat TK/SD. Pulangnya tetap malam habis Isya, sambil bawa bayi. Start dari pagi di kampus sampai sore, belajar sambil pangku bayi, kadang-kadang si bayi diambil dosen ke mejanya. Sore gak ke rumah dulu, langsung ngajar. Lumayan perjalanan 40 menitan. Ketemu suami dan familiy time pas malam, karena dia kerja sampai Magrib baru di rumah. Masaj lagi tuh sampai rumah, makan bareng, cerita-cerita atau main sama anak. Setelah bayi tidur baru kerja tugas kuliah, tengah malamnya dipakai nulis buku. Paginya mulai lagi rutinitas wkwkw. Jangan tanya capek atau gak, yang pasti capek itu ada, tapi kita punya motivasi buat tetap semangat. Intinya, aku takut kalau semangat itu mulai hilang, untuk itu setiap hari aku ngumpulin tenaga dan merefresh pikiran biar selalu terarah pada yang baik-baik. 

Dan sekarang, Sist, aku welcome sama teman-teman di kelas yang mau setoran hapalan Alqurannya dan tahsinnya, amanah juga dari dosen sih. Tiap hari melist antrian untuk memberikan masukan dan kritikan ke mereka. Juga dengan teman-teman yang hobby nulis, banyak yang kirim tulisannya buat aku baca kemudian aku beri feedback. Tapi sama sekali aku gak keberatan, selagi bisa membantu dan berbagi, kenapa tidak? Justru lega aja saat sharing dengan sesama. Masih banyak cerita aku yang lain, tapi bersambung di sini dulu.

Kamu harus membuktikan bahwa perempuan itu hebat. Biarkan orang lain merendahkanmu, tapi jangan kamu yang melakukannya. Kamu bebas kok mau nikah kapan aja; nikah muda, nikah tua, jadi istri kedua, mau gak nikah, mau kuliah dulu baru nikah, mau nikah sambil kuliah.  Itu pilihan kamu, selagi kamu mampu menanggung resiko. Tentukan pilihanmu, sebelum pilihan menentukan hidupmu. 

Selasa, 14 April 2020

Review Buku Budaya dan Masyarakat

Review Buku Budaya dan Masyarakat
Pereview:  Andi Ulfa Wulandari
Penulis Buku : Kuntowijoyo
Penerbit : TW Publisher (Tiara Wacana)

Sebuah buku yang ditulis oleh Kuntowijoyo, seorang berdarah Jawa, tentunya praduga saya ini berangkat dari akhiran nama beliau “o” yang sering kali digunakan dalam pemberian nama pada anak-anak yang lahir dari etnis Jawa. Saya akui pemikiran penulis dan tata cara penyampaiannya yang runtut lagi jelas, buku cukup enak dijadikan kawan bersantai.  Buku ini terdiri atas empat bagian yang mpada maisng-masing bagian terbagi-bagi lagi. Melalui buku ini penulis menyampaikan bahwa telah terjadi proses simbolis pada masa lampau bahkan masa kini (masa ketika dia menuliskan buku ini). Lalu, bagaimana dengan masa yang tengah kami jalani sekarang? 
Sebelum membahas itu, saya hendak membedah lebih dulu hal-hal urgen yang penulis katakan di dalam bukunya. Menurutnya, kebudayaan bisa menjadi tidak fungsional bilaman simbol dan norma tidak lagi didukung oleh lembaga-lembaga sosial. Kontradiksi budaya bisa saja terjadi sehingga dapat melumpuhkan dasar-dasar sosial, dna kontradiksi budaya juga bisa terjadi karena adanya kekuatan-kekuatan budaya yang bertentangan di dalam masyarakat. Penulis beranggapan bahwa peranan kaum inteletual sangat penting di sini, karena kaum intelektuallah yang berada pada posisi terdepan dalam pembentukan pengetahuan di masyarakat. 
Tak luput penulis menyinggung tentang budaya spiritual, yang mana menurutnya bahwa organisasi massa yang menampung banyak anggota menjadi bagian dari perkembangan kesalehan simbolis kebudayaan spiritual. Saya terus terngiang pada istilah zaman “edan” yang disematkan oleh Ranggawarsita, pasalnya zaman gila itu tidak hanya terjadi di masa beliau, tetapi juga di masa kami sekarang. Mungkin lebih tepat jika saya katakan bahwa zaman Ranggawarsita adalah cikal bakal dari kegilaan zaman sekarang. Mungkin jika yang menulis buku serupa adalah orag Bugis, maka akan dikatakan zaman “tojangeng”. 
Sejarah mencatat bahwa di negara ini pernah diisi oleh dualisme kebudayaaan. Dan di saat birokrasi kolonial semakin meluas, muncul satu golongan baru yang dinamakan golongan priyayi. Bnetuk-bentuk perubahan sosial terus terjadi seiring bergulirnya waktu, hingga muncul golongan kelas menengah yang terdiri atas golongan intelektual, pengusaha, dan para pedagang. Awalnya mereka-mereka ini memang hanya menjadikan ekonomi sebagai pusat fokus mereka, tetapi lambat laun juga mereka menjadi pendukung kebudayaan baru. Dan para golongan kelas menengah ini tidak hanya berasal dari Tanah Jawa, karena dualisme budaya di luar Jawa telah diperantarai oleh enkulturasi dari kebudayaan Islam. Untuk itu, mungkin yang menjadi salah satu persepsi dari penulis bahwa ada baiknya jika kampung-kampung semakin jauh dari pusat kota, karena terpeliharanya budaya daerah dan tradisional mereka. 
Rasaya ingin saya membetulkan hampir semua apa yang penulis katakan, terutama persoalan realita Indonesia dewasa ini. Modernitas telah mengubah setiap sendi kehidupan masyarakat, semua serba ter-manage sesuai standar yang telah ditentukan. Birokrasi dikatakan menjadi bagian yang penting dari modernitas itu sendiir, bahkan sellau kita temukan birokrasi di setiap sudut kehidupan sosial di negeri ini. Di sekolah-sekolah, kampus-kampus, perusahaan, kantor lurah, bahkan dalam politik yang berwujud partai itu. Penulis sendiri menyadari bahwa budaya Jawa terancam tenggelam dalam proses modernisasi ini, padahal jangankan budaya Jawa, di luar Jawa pun (katakanlah suku Bugis di Sulawesi) mulai timbul tenggelam. 

Entah apa yang menjadi motivasi terbesar penulis dalam mengaitkan Islaam, Jawa, dan Indonesia di dalam buku ini, akan tetapi saya mencoba menerka bahwa kemungkinan Islam dijadikan suatu objek karena merupakan agama dengan penganut terbanyak di negara ini. Termasuk yang menarik adalah pembahasan mengenai masjid dan pasar, yang mana kedua tempat ini pernah disinggung dalam hadis Nabi Saw., tetapi keduanya merupakan bukti simbolik dari dua kebudayaan, yaitu budaya Islam dan budaya Barat, karena merekalah yang lebih banyak menghasilkan contoh dari kekuatan pasar. Kurang lebih begitu yang saya pahami. 
Perubahan sosial yang melibatkan tata sosial dan nilai-nilai telah berhasil mengubah gambaran masyarakat tradisional menjadi masyarakat kolonial, demikian yang penulis simpulkan. Sedangkan perubahan-perubahan sosial dan ekonomi membawa serta perubahan terhadap budaya. Saya pribadi memandang bahwa meski budaya tradisional tidak sepenuhnya lenyap, tetapi telah mengalami pergeseran yang bahkan cukup signifikan, dan juga berdampak pada behaviour (keperibadian) seseorang. Kalau kita bandingkan kondisi sekarang dengan kondisi yang dideskripsikan si penulis di dalam bukunya, maka juah lebih hebat perubahan yang terjadi di masa sekarang. Tentu, karena sudah beberapa dekade berlalu.
Industrialisasi awal telah mengguncangkan kehidupan masyarakat dan kebudayaan, meski di lain sisi tak dapat dipungkiri bahwa dengan modernitas ini juga memberikan dampak positif terutama bagi mereka kaum rebahan yang ingin segalanya serba “wah”, serba canggih. Dan kaum ini juga merupakan hasil pembentukan dari modernitas. 

Di dalam sastra menurut penulis, untuk memutuskan suatu zaman dan munculnya zaman baru adalah dnegan mengukuhkan prosa sebagai warna dominan dalam gerakan baru tersebut. Nah, di sini kemudian disinggung juga bahwa pengarang yang mendukung karya sastra didominasi oleh guru-guru. Bukan hanya dalam sastra, ternyata pergulatan antara budaya tinggi dengan budaya massa juga terjadi dalam dunia layar kaca atau perfilman. Fakta bahwa mereka yang telah bekerja keras membuat film yang bermutu pada akhirnya harus kalah oleh mereka yang membuat film dnegan menyesuaikan selera massa. Meskipun begitu, massa yang memiliki peranan besra dalam membentuk selera kesenian tidak sellau berarti kesenian populer mmeiliki kecenderungan dekaden atau merosot.
Tetap saja, bagi saya karya yang lahir demi memuaskan hari orang lain adalah bentuk kebohongan terbesar dalam sebuah seni, dan dengan sendirinya budaya seni mulai menipis melalui ketidakjujuran ini. Dengan begitu saya setuju terhadap statemen penulis ketika membahas persoalan kesalehan simbolis dan kesalehan aktual, yang seharusnya kita saksikan harusnya sanggup membebaskan manusia, tidak hanya mengensipasikan manusia secara spiritual. Karena hanya kesalehan yang memiliki cita-cita pembebasan struktural yang mampu membawa masyarakat pada keutuhan zaman industrialisasi, urbanisasi, dan teknologisasi layaknya sekarang ini. 
Rupanya, westernisasi dan islamisasi mengakar kuat di tengah-tengah masyarakat, dan berhasil mengubah pola hidup kita bahkan menjadi kecanduan. Kemunculan pers nasional, orkes keroncong maupun arsitektur-arsitektur baru menunjukkan adanya sebuah sikap baru yang terbebas dari tradisi. Kemudian jika kita tarik ke zaman yang serba canggih ini, di era generasi Z dan Y, dimana budaya seperti sesuatu yang dianggap kolot dan terbelakang. Beberapa pihak yang mengaku sebagai manusia modern terlihat lebih bangga dengan produk-produk yang dihasilkan budaya Barat dibanding budaya lokal sendiri. 
Buku ini bagi penulis seperti santapan lezat, sangat cocok untuk dibaca oleh kaula muda, terlebih pada bagian ketiga yang membahas mengenai perbenturan nilai dalam proses perubahan sosial. Era sekarang dunia pendidikan semakin semarak, tidak sulit lagi untuk menjadi sarjana, apalagi lulusan SLTU. Tetapi karena sistem modernitas yang dipenuhi persoalan birokrasi membuat ijazah biasanya hanya menjadi pajangan di almari. Karena untuk masuk di suatu perusahaan, perkantoran atau instansi lain, seseorang dituntut dengan berbagai macam ketentuan birokasi yang runyam, tak jarang diopor ke sana ke mari layaknya bola pimpong. Semakin modern, manusia akan semakin berpikir instan, dan perlahan menepis budayanya. 

Selasa, 07 April 2020

Review Buku Pendidikan Multikultural Berbasis Kearifan Lokal

(Sebuah Review, Sekaligus Rekomendasi Bahan Bacaan Buat Teman-Teman)

Judul Buku : Pendidikan Multikultural Berbasis Kearifan Lokal
Penulis  : Anwar Hafid, dkk
Penerbit : Badan Penelitian dan Pengembangan , Kemendikbud
Tempat Terbit : Jakarta
Tahun/Cetakan : 2015/I
Tebal : 204 halaman
ISBN : 978-602-18138-6-7

Buku ini merupakan karya antologi dari Anwar Hafid beserta ketiga penulis lainnya, yaitu Ali Rosdin Muhammad Musoffa, dan M. Nur Akbar. Kehadiran buku ini merupakan hasil dari sistem kerja yang diadakan oleh Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan (Puslitjakdikbud), yang mana di dalamnya mengangkat empat bab yang meliputi: pendahuluan, falsafah kalosara dalam masyarakat Tolaki, falsafah bhinci bhinciki kuli dalam masyarakat Buton, dan terakhir falsafah lar vul nga bal dalam masyarakat Kei.

Ketiga falsafah ini sengaja diteliti dan diabadikan dalam bentuk tulisan karena dipandang bahwa ketiganya mengandung nilai-nilai kearifan yang dapat digunakan sebagai instrumen rekayasa sosial guna mendorong satuan pendidikan dan masyarakat agar bisa berperan dalam menanamkan kesadaran multikultur dengan segala perbedaan yang ada.
Saya melihat bahwa yang dituliskan dalam buku ini sebenarnya adalah sesuatu yang memang dibutuhkan oleh negara kita sekarang.

Perkembangan zaman yang modern dan kemajuan ilmu teknologi yang semakin canggih, secara tidak sadar telah membuat masyarakat melupakan nilai-nilai filosofis yang diwariskan oleh para leluhur. Bahkan tidak sedikit kita melihat hari ini masyarakat modern khususnya para generasi muda mulai mengalami krisis moral. Mereka justru menganggap bahwa falsafah hidup yang terdapat di dalam kebudayaan mereka adalah sesuatu yang kolot dan ketinggalan zaman. Padahal jika ditilik lebih seksama, nilai-nilai kebajikan yang terdapat dalam masyarakat lokal adalah bersifat perenial atau abadi, dan akan selalu sesuai dengan pergolakan zaman.

#writingstyle
#AUW 


Rabu, 01 April 2020

Resep Simple: Puding Buah Naga

Haii, semua, bertemu lagi dengan saya.
Kali ini saya ingin berbagi resep puding buah naga yang simple banget tapi tetap enak loh. Bahan-bahannya:

1 bks agar-agar plain (bening)
1 buah naga (hancurkan menggunakan garpu)
2 bks susu kental manis putih
1 gelas santan
Air putih secukupnya
Gula pasir sesuai selera
Garam (sedikit aj)

Cara membuat:

- Aduk rata agar-agar, gula, kental manis, santan, air & garam
-Masak dengan api sedang hingga mendidih
-Matikan api, lalu bagi adonan menjadi 2 bagian. Satu adonan putih tuang ke dalam talang/cup. Tunggu hingga mengeras
-Nyalakan kembali kompor, panaskan sisa adonan tadi, lalu campurkan buah naga yang sudah dihancurkan
-Aduk rata, matikan kompor. Kemudian tuang adonan buah naga di atas adonan pertama tadi.

Untuk toping bisa iris kecil buah naganya terus taburin

Nah, simple kan? Tapi tetap enak 😀
Selamat mencoba, Dear.

Best regards

AUW

Senin, 23 Maret 2020

Cara Efektif Me-Review Buku

Assaalmualaikum, haloo teman-teman blogger ^°^
Kali ini Wulan muncul lagi buat berbagi tips kepada teman-teman semua tentang cara mereview buku. Nih bagi yang masih bingung cara mereview buku tuh kayak gimana sih. Jadi beda ya antara meresume dan mereview. Kalau meresume berarti kita merangkum isi buku, dengan bahasa sebagaimana buku itu. Nah, kalau mereview itu kita menjelaskan kembali isi buku sebagaiamana pemahaman dan bahasa kita sebagai pengamat. 

Jadi gitu ya, Readers. Sekarang kita langung aja nih ke tips-tips sederhana ala orang biasa ini #ehhh 

1. Siapkan kertas dan pulpen
2. Jangan baca isi bukunya dulu. Lihat-lihatin aja dulu bentuk fisiknya. Bolak-balik depan belakang tuh fisik bukunya 

3. Perhatikan bagian informasi penerbitan, lalu tulis: nama penulisnya siapa, judul buku, penerbit, jumlah halaman, ISBN, jika perlu informasi harga buku.

4. Tulis komentar kamu tentang fisik buku itu. Misalnya gambar sampulnya kurang pas, warnanya, fontnya, dsb. 

5. Berikan kritikmu tentang cara penyampaian si penulis, apakah berbelit-belit atau mudah dipahami. Puji-puji dulu lah dikit, sebelum kamu olesi sambal pedas wkwkw.

6. Nah, giliran kamu kritik isi buku (materi) itu. Kamu setuju gak dengan apa yang disampaikan penulisnya, kalau iya alasannya apa dan kalau gak juga kenapa.

7. Setelah itu di akhir kamu sisa memberi saran, setelah membaca buku itu menurut kamu baiknya gimana, bla bla bla. 

Selesai deh, simpel aja kan? Ingat ya, review bukan resume. Semoga bermanfaat ya, Readers 
😀

Wassalamualaikum