Kamis, 19 Januari 2023

3S for Happy


Mengapa mesti memilih untuk menggerutu, jika masih ada alasan untuk tersenyum?
Mengapa memilih kalah, jika masih bisa menggengam kemenangan?
Mengapa memilih jalan di tempat, jika masih mampu untuk melangkah?
Mengapa memilih suudzan, jika husnudzan lebih menguntungkan?
Mengapa memilih untuk pesimis, jika masih ada kata untuk optimis?
Mengapa memilih jalan berliku jika masih ada jalan yang lurus lagi pasti?

            Hidup ini hanya persoalan persepsi, sejauh mana seseorang memandang dan menilai sesuatu. Kehidupan ini merupakan kumpulan pilihan, tentukan pilihanmu sebelum pilihan menentukan hidupmu. Setiap orang memiliki masalah dan kesedihannya masing-masing. Tak seorang pun yang hidup tanpa masalah, namun sebagian dari mereka mampu membungkusnya dengan tawa, atau paling tidak menambalnya dengan senyuman. Di luar sana ada begitu banyak pasutri yang belum juga memiliki keturunan padahal telah lama menikah. Ada yang diberi keturunan tapi anak itu malah cacat, tidak sesuai dengan yang diharapkan. Ada yang bergelimang harta tetapi rumahnya tak ubahnya seperti neraka, setiap hari terdengar keributan di sana. Ada yang berduit banyak dan berprofesi tinggi, tetapi tiap bulan harus bolak-balik rumah sakit. Begitu banyak manusia yang serba kekurangan tetapi hatinya tetap bahagia, wajahnya ceria seolah tanpa beban. Dan betapa banyak manusia yang hidup dalam kesenangan, tetapi hatinya diliputi gelisah berkepanjangan.  Sesekali kita harus membiasakan diri dengan situasi yang runyam. Karena hati yang lemah amat rentan terhadap keadaan sekitarnya. Tersenggol sedikit ia akan patah, sulit kembali seperti semula. Biarkan saja orang-orang dengan perkataannya, jika itu tidak memberi manfaat sedikit pun maka lebih baik diacuhkan. Milikilah hati sekuat baja, yang tak mudah goyah oleh sindiran oran lain, yang memiliki tiang kokoh bernama komitmen.

            Jika masih sering baperan dan sulit untuk rileks, mungkin masalahnya bukan berasal dari orang lain, melainkan dari kita sendiri. Ada tiga kiat yang tidak akan membuat seseorang terkungkung dalam kesedihan, saya menyebutnya 3S (sabar, shalat, dan syukur). Ketiga hal ini jika benar-benar diaplikasikan dalam diri seorang hamba, maka dengan sendirinya ketenangan dan kebahagiaan menghampirinya.  Sudah banyak yang membuktikan resep jitu ini, sehingga tidak ditemukan sesuatu darinya selain kebaikan.

            Bahagia itu hadir dari paradigma manusia itu sendiri. Apa dan bagaimana pun perilaku orang di sekitar, anggaplah sebagai debu yang terhapus angin senja. Jika keberadaanmu tidak berarti bagi orang lain, setidaknya kamu berarti bagi dirimu sendiri, keluargamu, dan agamamu. Apalah arti ridha manusia bila akhirnya tak membawa maslahat. Bila mereka hanya mampu mendatangkan gejolak nelangsa dalam hatimu, maka tinggalkanlah. Kamu layak bahagia. Yang mengenalmu lebih baik hanyalah dirimu dan Tuhanmu. 
            Kita belajar, bahwa Tuhan tak pernah menginginkan keburukan untuk kita. Bila hari kemarin kita bersedh, kecewa dengan keputusan Tuhan, boleh jadi hari ini, esok, atau lusa kita temukan hikmah yang tak mampu dijelaskan pada siapa pun. Mungkin ada takdir yang ditetapkan Allah untukmu, namun takdir itu terasa sangat memilukan dan bahkan memalukan. Membuat wajahmu bak tercoreng arang tebal, atau mungkin Allah memberi cobaan berupa hidup susah dengan berbagai macam penderitaan. Kamu meraung-raung, membenci orang lain, menyalahkan siapa saja, bahkan menyalahkan diri sendiri dan mengutuk situasi. Padahal segala bentuk ketidakenakan itu telah dirancang baik oleh-Nya, untuk kemudian dihadiahkan sesuatu yang jauh lebih baik suatu saat nanti.

            Tetapi, kebanyakan manusia tergesa-gesa, tidak sabaran, dan snagat mudah menghakimi Tuhan, keadaan, maupun orang lain. Ini yang disebut sebagai “the fallacy of straw man”, sebuah keadaan dimana manusia keliru dalam berpikir dan memandang sesuatu.

            Sabar, satu kata yang sangat dibutuhkan dalam setiap perkara. Hati yang lembut biasanya mudah bersabar namun juga mudah terbawa arus keadaan, bahasa anak sekarang “baper”. Hati yang lembut kadang mudah tersinggung, ditiup angin sedikit seketika ingin rebah. Tetapi dunia ini adalah sebuah pentas drama, yang kita temui tidak hanya pelakon pratagonis, melainkan juga antagonis.

            Konflik dalam hidup bukan sesuatu yang pantas kita sebut ‘sulit’ justru dengan itu semua akan menjadikannya ‘complete’. Anggap saja sedang berada di atas pentas drama atau sedang bermain sinetron. Yang penjiwaanya oke, ganjarannya juga oke. Upah yang diperoleh pun lebih besar daripada upah para aktor. Karena ganjarannya berupa pahala langsung dari Allah. Mungkin ada yang mengatakan, “Kalau cuma ngomong suruh bersabar sih memang gampang, jalaninnya yang susah.” That’s true! Mengatakan memang tak semudah menjalani, namun menjalani tak serumit membayangkan. Jika sabar tak dibiasakan, akan terus terasa rumit untuk melakukan. Kita perlu terbiasa dan membiasakan diri, ala BISA karena BIASA. 
            Setelah itu, banyak-banyak bersyukur. Syukur masih diberi kesehatan, syukur masih bisa makan, masih punya orangtua lengkap, syukur-syukur punya motor. Dengan begitu, niscaya nikmat yang diperoleh akan berlipat ganda, karena ini janji Tuhan dalam Alquran. Silakan lihat kehidupan mereka yang lebih sulit darimu, baik persoalan financial, bentuk fisik, maupun kekurangan lainnya. Bayangkan jika kamu berada di posisinya, resapi jika Tuhan mencabut semua milik-Nya darimu. Berbahagialah, karena kamu masih punya Tuhan yang menyayangimu lebih dari sayangnya seorang bu pada anaknya.

            Sebuah perkara yang sangat susah untuk ditepis oleh kebanyakan manusia adalah berlapang dada. Ketika segaris kebaikan seseorang pada kita seketika bisa terlupakan dan terhempas jauh hanya karena setitik kesalahan. Padahal Tuhan Yang Maha Hebat pun segunung kesalahan kesalahan kita akan Ia maafkan selagi kita mau meminta maaf-Nya dengan tulus. Sombong sekali, jika kita yang penuh ketergantungan ini tidak ingin melirik saudara kita hanya karena ia pernah bersalah.  


Bahagia tak diperoleh dengan memiliki rumah yang besar, bukan dengan memiliki kendaraan yang mewah, bukan dengan memiliki fasilitas yang lengkap. Bukan dengan menjadi seorang yang terpandang, bukan juga dengan memiliki paras yang rupawan. Bahagia adalah pantulan dari hati. Hati yang berbalut cinta akan menuai kebahagiaan, hati yang berteman syukur akan selalu merasa bahagia. 

Menangislah bila ingin, keluarkan saja. Karena air mata pun rahmat Ilahi. Tetapi jangan terlalu lama bersemedi dalam keterpurukan. Jiwa kita berhak memperoleh nutrisi berupa kebahagiaan. Fokus pada tujuan hidup, tak perlu sibuk mengurusi orang lain dan omongannya. Hapus sedihmu dengan kesibukan, sibukkan diirmu dnegan berkarya. Ciptakan karyamu dengan ibadah, pelihara ibadahmu dengan keikhlasan. Barengi ikhlasmu dengan bersyukur, jadikan syukurmu sebagai komitmen. Lakukanlah semua itu dengan konsisten.

            Tak perlu men-judge apalagi memandang orang lain rendah dan hina. Banyak yang berlaku memalukan seperti ini. Saat seseorang susah, terinjak, terpojok, dipandang hina dan penuh dosa, banyak orang di sekitarnya menjauh. Mereka mencibir, menggeleng-gelengkan kepala seraya diri paling suci.

Giliran Tuhan memberi hadiah, membalik nasib orang tadi menjadi lebih baik, hebat dan masa suramnya telah berbuah senyuman, mereka yang dulu menghina kemudian datang menobatkan dirinya sebagai kawan. Lucu! Kehidupan ini bercerita tentang kedinamisan. Kamu boleh tertawa saat orang lain menangis, dan berlari saat orang lain merangkak. Tapi suatu saat, kamu juga harus siap untuk melihatnya berada pada posisimu.

“Refresh sejenak. Kelak mereka akan mencarimu. Korbankan waktu dan tenaga hari ini, suatu saat kamu akan bernilai mahal seperti berlian. Boleh jadi namamu akan abadi sepanjang sejarah, sedang mereka masih sibuk dengan nyinyirannya.”


~ Andi Ulfa Wulandari ~ 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar