Jumat, 07 Maret 2025

Ramadan#7 : Kedamaian dan Cinta Kasih


Di sebuah rumah sakit ketika aku sedang menunggu depan ruang IGD, terlihat empat orang anak laki-laki yang baru saja berkelahi karena memperebutkan mobil-mobilan, lalu saling mengadu pada orang dewasa di dekatnya. Terkadang masalah yang membuat anak-anak rewel dari sudut pandang orang tua terkesan konyol. Apakah itu tentang mainan yang rusak atau mungkin rubik yang jadi rebutan. Aku mengamati emosi mereka perlahan reda setelah puas mengadu. Ternyata anak-anak itu hanya ingin didengarkan meski persoalannya terkesan sepele. Jarang kita sadari bahwa sebagai orang dewasa kita pun seperti itu juga, kita kadang hanya ingin didengarkan meski persoalannya terkesan sepele. Karena dengan didengarkan, perasaan kita sebagai manusia akan tersentuh. 

Demikian Tuhan memberikan sifat ilahiyahnya ke dalam diri manusia, salah satunya yaitu cinta kasih. Dengan mendengarkan orang lain tanpa menghakimi mampu membuat eksistensinya benar-benar dihargai dan merasa dicintai. Setiap orang memerlukan pelukan, betapa pun keras hatinya. Sebenarnya orang dewasa yang kita temui adalah anak kecil yang bertubuh besar, dia adalah anak yang tumbuh di atas harapan orangtua, maka dia pun berhak memperoleh kasih.

Ini hanya bagian kecil dari proses mengembangkan cinta kasih kepada sesama. Dalam Islam cukup masyhur petuah Rasulullah Saw., agar kita mencintai suadara kita lainnya sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri. Sederhananya, Islam mengajarkan bahwa perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan; dan inilah yang dimaksud sebagai memanusiakan manusia. Ketika kita berada pada posisi yang tinggi dalam sebuah struktur organisasi baik di keluarga maupun di tempat kita bekerja, terkadang sulit untuk mendengarkan yang lain karena adanya hierarki dan status sosial tadi. 

Sehingga sering kita temui seorang anak takut berbicara lebih jujur dan terbuka kepada orang tuanya karena tak diberi ruang untuk didengarkan; seorang karyawan takut menyampaikan ide kepada atasannya, karena tak diberi kesempatan untuk berpendapat; dan kasus-kasus serupa lainnya. Kita membentuk kultur "takut" di tengah lingkungan kita, bukan cinta yang kita tanamkan sehingga kerap berdampak buruk bagi masa depan kita dan menjadi rantai yang tak pernah putus dari generasi ke generasi. 

Hal-hal implisit yang tak terlihat dan juga tak terucap menjadi penting untuk didengarkan dan dipahami, seperti memberikan keleluasaan bagi si pembicara untuk menentukan pembendaharaan kata dan waktu yang tepat untuk berbicara. Menariknya bahwa, seni mendengarkan dalam bentuk mengembangkan cinta kasih juga dapat ditumbuhkan di ruang-ruang rapat atau di ruang-ruang diskusi. Di mana setiap kepala memiliki argumen masing-masing, bahkan kerap kali kita menemukan saat semua ingin didengar tapi tak semua mau mendengar. Pada kondisi ini, kita dapat terus berlatih untuk sedikit menurunkan ego. Kita memang perlu berhadapan dengan situasi yang pelik untuk bisa melakukan latihan ini. 

Outputnya adalah mengantarkan kita pada kedamaian. Hidup yang terus dipupuk dengan kebaikan dan cinta kasih menjadi lebih damai dan bermakna. Mungkin tak hentinya kita meminta untuk senantiasa dipertemukan dengan orang-orang baik dan kebaikan berdatangan ke dalam hidup kita. All is well in your world 

AUW

1 komentar:

  1. Kebaikan dan cinta kasih yang ditunjukkan kepada orang lain akan menjadi nilai plus pada diri kita.

    BalasHapus